Semarang, 22 April 2026.
Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip) kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak inovasi terapan melalui pengembangan produk pangan inovatif beras analog—solusi strategis untuk diversifikasi pangan sekaligus penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Inovasi ini diimplementasikan melalui kolaborasi konkret bersama Dinas Pertanian Kota Semarang dalam kegiatan Pelatihan P2HP Pendamping Beras Padi (Beras Analog) yang berlangsung pada 15, 16, dan 21 April 2026 di Kantor Dinas Pertanian Kota Semarang.
Beras analog yang dikembangkan menjadi highlight utama dalam kegiatan ini. Produk ini merupakan inovasi pangan berbentuk butiran menyerupai beras yang dihasilkan melalui teknologi ekstrusi dengan memanfaatkan bahan baku lokal non-padi seperti singkong, jagung, talas, porang, hingga kacang-kacangan. Inovasi ini tidak hanya menjawab tantangan ketergantungan pada beras padi, tetapi juga menawarkan nilai tambah dari sisi kesehatan melalui indeks glikemik yang lebih rendah serta kandungan gizi yang kompetitif.
Dosen Sekolah Vokasi Undip, Dr. Heny Kusumayanti, S.T., M.T., sebagai salah satu pengembang dan narasumber utama, menegaskan bahwa beras analog merupakan bentuk nyata hilirisasi riset kampus yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium. Beras analog ini kami dorong menjadi produk yang bisa diproduksi, dikembangkan, dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat, khususnya kelompok tani dan pelaku UMKM,” ujarnya.
Peran Undip dalam kegiatan ini tidak hanya sebagai penyedia teknologi, tetapi juga sebagai knowledge hub yang memastikan transfer inovasi berjalan efektif. Melalui pendekatan pelatihan berbasis praktik, Undip membekali peserta dengan pemahaman mulai dari formulasi bahan, proses produksi, hingga potensi pengembangan usaha. Langkah ini merupakan bagian dari strategi hilirisasi inovasi yang menghubungkan riset akademik dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Kolaborasi dengan Dinas Pertanian Kota Semarang menjadi kunci dalam memperluas dampak inovasi ini. Sinergi ini memungkinkan inovasi kampus menjangkau langsung para pelaku utama sektor pertanian, termasuk Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kelompok Tani (KT), dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dari berbagai wilayah di Kota Semarang. Dengan pendekatan ini, inovasi tidak hanya diperkenalkan, tetapi juga diadopsi dan berpotensi dikembangkan menjadi unit usaha baru di tingkat lokal.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, H.M. Rukiyanto A.B., S.H., M.M., serta Bapak Nunung Sriyanto, S.H., M.M., yang memberikan dukungan terhadap penguatan kebijakan pangan berbasis inovasi lokal. Kehadiran para pemangku kepentingan ini memperkuat ekosistem inovasi yang melibatkan akademisi, pemerintah, dan masyarakat.
Melalui pengembangan beras analog, Undip menunjukkan bahwa inovasi berbasis Kekayaan Intelektual tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga nilai ekonomi yang nyata. Produk ini membuka peluang baru bagi diversifikasi usaha, peningkatan nilai tambah komoditas lokal, serta penciptaan model bisnis berbasis inovasi pangan.
Ke depan, Undip bersama Dinas Pertanian Kota Semarang akan terus memperkuat kolaborasi dalam mendorong adopsi teknologi, pengembangan produk turunan, serta potensi komersialisasi beras analog. Langkah ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan inovasi daerah yang berkelanjutan—menghubungkan riset, kebijakan, dan pasar dalam satu ekosistem yang terintegrasi.