Gambar 1. Task force (kiri) dan focus farms KUD Mojosongo (kanan) dalam menerapkan pencatatan di papan (white board)
Boyolali, 6–8 Mei 2026 – Program IndoDairy 2 yang didukung oleh Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) telah memasuki tahap intervensi di koperasi susu pada dua provinsi mitra, yaitu Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam upaya memperkuat praktik peternakan sapi perah yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.
Menurut Project Leader tim UNDIP, Drh. Dian Wahyu Harjanti, Ph.D., pada Tahap I (Round I), kegiatan #IndoDairyBersama bekerja sama dengan KUD Mojosongo dalam pemasangan sistem air ad libitum bagi 24 focus farms (peternak percontohan). Sistem ini memungkinkan sapi perah mendapatkan akses air minum selama 24 jam penuh setiap hari, yang berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan ternak dan produktivitas susu. Program pendampingan ini tidak berhenti pada pemasangan fasilitas saja, melainkan akan berlangsung secara berkelanjutan selama 18 bulan ke depan sebagai bagian dari penguatan kapasitas peternak dan koperasi susu. drh.Dian Wahyu Harjanti.,Ph.D menambahkan kegiatan ini juga didukung staff UNDIP yaitu : Siwi Gayatri, Ph.D. dan Edi Prayitno, M.Si dan dua orang research asisten (Ihda Usria N. I., M.Si dan Nida Fariha., M.Pt.).
Sejumlah kegiatan pendukung juga telah dilaksanakan oleh Tim IndoDairy 2 bersama KUD Mojosongo, di antaranya Pelatihan Pentingnya Air Minum bagi Sapi Perah, Pelatihan Dasar Pakan Sapi Perah, serta pelatihan on-farm untuk pencatatan (recording) dan monitoring rutin yang dilakukan oleh taskforce atau satgas KUD Mojosongo. Tim taskforce ini berperan sebagai kepanjangan tangan Tim IndoDairy dalam melakukan pendampingan dan tindak lanjut secara rutin kepada peternak binaan, sehingga perkembangan penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP) dapat dipantau secara berkelanjutan.

Gambar 2. Kiri: Ketua KUD Mojosongo (Heni P) menyerahkan buku rekording kepada focus farms. Kanan (Daryono)- salah satu focus farms
Melalui pendekatan ini, IndoDairy 2 tidak hanya memberdayakan peternak, tetapi juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia di tingkat koperasi. Tim taskforce dibekali pengetahuan dan keterampilan agar mampu memberikan penyuluhan, pendampingan dan pelayanan yang lebih baik kepada peternak sapi perah. Selain pemasangan sistem air ad libitum, IndoDairy 2 juga menyediakan fasilitas recording dan panduan praktis (factsheet) yang disusun dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami, sehingga inovasi dan praktik beternak yang baik dapat lebih mudah diterapkan oleh peternak di lapangan.
Ketua KUD Mojosongo, Heni Prihatinningsih, menyampaikan pentingnya pendampingan berkelanjutan melalui penguatan koperasi susu kepada peternak sapi perah. Menurutnya, peternak membutuhkan program yang inklusif, aplikatif dan mudah dipahami agar perubahan praktik beternak dapat berjalan secara optimal.
Heni juga menjelaskan bahwa sejak terpasangnya sistem air ad libitum pada 24 focus farms, kondisi sapi perah terlihat lebih sehat dengan bulu yang lebih halus dan mengkilap. Selain itu, beberapa peternak mulai mengalami peningkatan kualitas susu dan peningkatan produksi susu hingga sekitar 1 liter per ekor per hari. Para peternak juga merasakan manfaat dari sisi efisiensi waktu dan tenaga karena tidak lagi harus menyediakan air minum secara manual untuk ternaknya.

Gambar 3. Tim taskforce memberikan pelatihan recording on farm kepada salah satu focus farm (Yusuf) dan Edi Prayitno, S.Pt., M.Si (Dosen Laboratorium Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP sedang memfollow up pemasangan air ad libitum di Focus Farm KUD Mojosongo)
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, koperasi, dan peternak, IndoDairy 2 diharapkan dapat menjadi model pendampingan peternak sapi perah yang berkelanjutan dan berdampak nyata terhadap peningkatan produktivitas, kualitas susu, serta kesejahteraan peternak rakyat di Indonesia.